Dari hasil riset yang dirilis Jones Lang LaSalle (JLL) Investment Intensity Index terungkap bahwa dari 30 peringkat kota besar di dunia, hanya empat kota di kawasan Asia Pasifik yang punya perkembangan signifikan dalam hal intensitas investasi properti. Empat kota besar tersebut adalah Sydney (urutan 8), Melbourne (urutan 16), Hong Kong (urutan 28) dan Tokyo (urutan 30).
Indonesia,
dengan Jakarta sebagai kota terbesarnya tidak masuk ke dalam jajaran peringkat
tersebut, sebab dinilai masih terkendala oleh sejumlah faktor. Mulai dari
kurangnya transparansi dalam hal regulasi, tantangan infrastruktur, pembatasan
pasar hingga gaya kepemilikan volatilitas ekonomi dan politik.
Sementara
itu kepada Rumsh.com, Hendra Hartono, CEO dari PT Leads Property Services
Indonesia sekaligus Ketua Panel Juri Independen Petahana untuk ajang PropertyGuru
Indonesia Property Awards 2017, justru berpendapat bahwa Jakarta masih tetap
menjadi kota yang dinamis di kawasan Asia Pasifik. Hendra
mengakui bahwa kondisi saat ini masih relatif ‘soft’ dan menantang.
Dengan demikian, pasar properti Indonesia bisa dikatakan tetap
“Jakarta-sentris”.
“Menurut
saya, melibatkan urban development plan akan meningkatkan nilai proyek
dan juga bisa menarik orang asing untuk tinggal dan berinvestasi properti di
Indonesia, utamanya Jakarta. Apalagi masih ada banyak cara yang bisa
bersama-sama kita perbuat untuk menaikkan Jakarta sebagai kota paling layak
huni,” katanya.
Hendra
menyebut, dalam data yang dikeluarkan Economist Intelligence Unit pada tahun
2016 lalu, Jakarta menempati urutan ke-56 kota layak huni dari 140 kota di dunia.
“Infrastruktur
yang terus bertumbuh di Jakarta bisa mengubah pola pikir dan cara orang
(investor) mencari lahan untuk bisnis propertinya,” tukas Hendra.
Jakarta
Nomor 7 se-Asia
Dalam survei
yang dikemukakan Urban Land Institute dengan masukan dari Pricewaterhouse
Coopers (PwC) LLP tahun lalu, Jakarta sukses menyabet posisi ke tujuh dari 10
peringkat kota dengan penawaran investasi real estate terbaik se-Asia tahun
2017.
Jakarta
berhasil mengalahkan tiga kota besar di bawahnya yakni Bangkok (8), Sydney (9),
dan Guangzhou (10). Kendati begitu, posisi ini justru turun satu peringkat,
setelah pada 2016 berada di peringkat ke enam.
Menurunnya
ranking Jakarta bisa jadi disebabkan karena kondisi perekonomian Indonesia yang
lebih kondusif selama triwulan kedua 2016. Apalagi pertumbuhan pasar properti
masih bergerak aktif dan tersentral di Ibukota.
“Namun
aktivitas pasar yang lebih baik di awal tahun ini memacu para investor dan
pelaku bisnis properti agar tetap optimistis, khususnya untuk sektor
perkantoran dan kondominium,” terang ujar Vivin Harsanto, selaku head of
advisory JLL (Jones Lang LaSalle) Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar