Kota Bekasi menjadi incaran pengembang properti di tengah tingginya
kebutuhan kalangan kelas menengah mencari hunian. Jarak tempuh Bekasi
menuju Jakarta yang cukup singkat ketimbang kota-kota penyangga lain
berkat jalur ganda commuter line menjadi daya tarik.
Hal ini
menjadi alasan pengembang properti Gunas Land kemudian memperluas
wilayah garapannya menjadi 130 hektare, dari sebelumnya hanya 40 hektare
untuk mengembangkan perumahan Vida Bekasi, di Jalan Raya Narogong. Vida
Bekasi, pengembang hunian terpadu yang mengedepankan konsep sustainable
living menggelar festival Vidaloka dengan melibatkan masyarakat sekitar
dan berbagai komunitas.
Direktur Vida Bekasi Edward Kusma
mengatakan, Vidaloka memiliki dua makna, yakni vida yang berarti
kehidupan dalam bahasa Latin, dan loka yang memiliki makna dunia dalam
bahasa sansekerta. Terang dia acara ini bertujuan mewadahi masyarakat
untuk bersosialisasi dan mengikuti berbagai kegiatan berorientasi pada
peningkatan kualitas hidup.
“Kami berharap di sini masyarakat
dapat saling mengenal, berinteraksi dan memiliki perhatian yang sama
untuk membangun lingkungan yang berkualitas. Kami mengedepankan berbagai
kegiatan community development. Bersama-sama, kita bisa menciptakan
kawasan tempat tinggal yang nyaman dan ramah lingkungan, sehingga
kualitas hidup yang baik di kota bekasi bisa dimulai dari Vida Bekasi,”
ujar Edward disela-sela acara Vida Fest di Marketing Gallery Vida
Bekasi.
Dia menambahkan perluasan ini untuk mengakomodasi semakin
menguatnya permintaan akan hunian di kota dengan populasi 2,5 juta jiwa
ini. "Selain itu, orang yang mencari rumah di Bekasi didominasi end
user (pengguna akhir) atau pembeli rumah pertama. Jadi, bisa dipastikan
rumah-rumah yang dikembangkan akan dihuni, sehingga membuat kawasan
perumahan menjadi hidup," ucapnya.
Apabila tingkat hunian sebuah
kawasan tinggi, lanjut Edward, dapat dipastikan pertumbuhan investasi
pun akan secara otomatis mengikutinya. Pertumbuhan investasi tersebut
terjadi secara alamiah, bukan hasil rekayasa berbau praktik spekulasi
atau yang lainnya. "Karena tumbuh secara alami, harga lahan dan properti
di sini hanya sekitar 10% hingga 15%. Namun, angka pertumbuhan ini
realbukan 'gorengan'," jelas dia.
Sebagai kawasan hunian
berkelanjutan, Vida Bekasi dilengkapi berbagai fasilitas pendukung
antara lain Bina Nusantara (Binus) School Bekasi yang setahun ini hadir
menghiasi kluster Saraswati. Vida Bekasi juga akan mengembangkan cluster
ramah lingkungan, dimana setiap rumahnya akan disediakan lahan untuk
berkebun/ bercocok tanam.
“Community development dalam jangka
panjang efeknya bisa meningkatkan penjualan. Dan ini costnya nggak besar
karena community driven kan dan crowdnya kebanyakan user,” kata dia.
Edward
menuturkan, harga rumah di klaster Botanica Vida Bekasi dipasarkan
dengan kisaran harga Rp400 juta sampai dengan Rp700 juta. Klaster
tersebut terdiri dari tiga tipe, yakni Basil dengan luas bangunan 47
meter persegi dan luas tanah 60 meter persegi, tipe Rosemary dan
Rosemary Villa dengan luas bangunan 69 meter persegi dan luas tanah 84
meter persegi.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada Oktober
2013, progres pembangunan Vida Bekasi dilakukan dalam beberapa tahapan.
Di antaranya infrastruktur gerbang dan jalan, penataan danau buatan dan
pembangunan empat klaster hunian pertama yang telah dihuni sebanyak
9.000 warga.
Adapun harga rumah yang ditawarkan berkisar antara
Rp300 juta untuk tipe 37/72 hingga Rp1,3 miliar untuk ukuran 105/120.
Total hunian yang akan dikembangkan di kawasan ini sebanyak
10.000-15.000 unit, lengkap dengan properti komersial, dan apartemen.
Sedangkan,
klaster perdana yang dibangun secara kolaboratif dengan PT Premier
Qualitas Indonesia adalah Premier Savanna. Kondisi aktual klaster ini
sudah terbangun 60 persen, dan kini sedang dipasarkan sisanya. Harga
yang dipatok mulai dari Rp 600 juta sampai Rp 1,3 miliar per unit.
Referensi : ekbis.sindonews.com
Home / Bisnis Properti /
Harga Properti /
Kawasan Industri
/ Prospek Properti di Bekasi Kian Menjanjikan
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
0 komentar:
Posting Komentar