Kota Depok
menjadi salah kota satelit Jakarta yang kian berkembang dari sisi sektor hunian
vertikal. Hal tersebut tak terlepas dari banyaknya sarana dan infrastruktur pendukung
kota Depok yang ada di Selatan Jakarta ini.
Kepala Dinas
Perumahan dan Permukiman Pemerintah Kota Depok Wijayanto mengatakan, Depok jadi
pasar potensial untuk hunian, terutama hunian vertikal di tengah lahan yang
kian mahal dan terbatas.
“Depok kian
berpotensi untuk rumah susun,” katanya, ditulis Kamis (27/4/2017).
Potensial,
menurutnya, karena selain permintaan yang tinggi dari konsumen, pembangunan
rusun juga bisa menjadi salah satu cara memenuhi program sejuta rumah yang
digulirkan pemerintah.
Terkait
sarana dan infrastruktur penopang, Depok juga sudah terbilang lengkap. Kepala
Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Herry
Trisaputra Zuna mengatakan, aksesibilitas Depok kian maksimal memasuki
2019. Terlebih, tol Cinere Jagorawi (Cijago) seksi dua sudah mulai beroperasi
akhir 2017. Kini, progres konstruksi jalan tol yang terdiri dari Margonda-Cisalak
dan Margonda Kukusan itu masing-masing sudah mencapai 68 dan 50 persen.
Tol Cijago
akan terdiri dari tiga seksi. Seksi I (Cimanggis-Jalan Raya Bogor) sudah
beroperasi pada 2012 lalu, sementara Seksi III (Kukusan-Cinere) masih dalam
proses pembebasan lahan.
Adapun akses
keluar masuk tol akan berlokasi di Jalan Raya Bogor, Margonda, dan Cinere.
Sementara itu, pembangunan jalan tol Depok-Antasari seksi I Antasari-Brigif
ditargetkan selesai akhir tahun ini.
“Sekarang
penyelesaian konstruksinya sudah mencapai 49,5 persen dengan pembebasan lahan
97 persen,” ujarnya.
Bagi
Direktur Utama Orchid Realty, Mujahid, hunian vertikal menjadi solusi utama di
pusat kawasan bisnis (CBD) Margonda, Depok. Di kawasan tersebut harga lahan
rata-rata menyentuh Rp 20 juta meter persegi (m2). Dua atau tiga tahun terakhir
ada dua tipe apartemen yang paling banyak dipasarkan di Depok, yaitu apartemen
untuk hunian mahasiswa dan hunian keluarga.
Permintaan
untuk hunian mahasiswa bahkan masih yang paling tinggi, mengingat semakin meningkatnya
jumlah mahasiswa yang kuliah di UI dan Gunadarma.
“Tipe yang
banyak diminati itu tipe studio dengan kisaran harga Rp 300 sampai Rp 500
juta,” ujar Mujahid, dalam kesempatan yang sama.
Sarana
pendukung lain adalah adanya fasilitas kesehatan yang memadai. Kepala
Rumah Sakit Univesitas Indonesia (RSUI), Julianto Wicaksono, juga didukung
kehadiran RSUI yang mulai beroperasi awal 2018. “RSUI akan sekelas rumah sakit
di Singapura, namun dengan biaya berobat yang lebih murah,” tutur dia, dalam
diskusi tersebut.
Dia
menjelaskan, rumah sakit modern berkapasitas 300 tempat tidur ini akan
menerapkan konsep Academic Health System yang berorientasi sepenuhnya pada
penyediaan lahan pendidikan profesional bagi dokter, dokter gigi, keperawatan,
farmasi dan kesehatan masyarakat secara terintegrasi.
Referensi : bisnis.liputan6.com
0 komentar:
Posting Komentar