Kondisi bisnis properti yang terpuruk berkepanjangan
dinilai tidak normal. Seharusnya situasi perekonomian nasional yang relatif
stabil dan daya beli masyarakat cukup baik membuat pasar properti bergerak.
Nyatanya tidak demikian, penjualan seluruh jenis dan segmen properti lesu.
Menurut kalangan developer pertumbuhan industri properti terhambat situasi
sosial politik yang tidak menentu. Konsumen, terutama investor, menunggu
situasi menjadi lebih stabil (wait and see).
“Sekarang ini
situasinya lebih baik, perekonomian masih cukup bagus, berbeda dengan krisis
tahun 1998 yang situasi ekonominya buruk. Daya beli konsumen juga tinggi, hanya
cara belinya tidak seperti dulu lagi tapi sudah mulai dipecah supaya risikonya
terbagi,” ujar Ishak Chandra, CEO Strategic Development and Services Sinar Mas
Land (SML), di Jakarta, Jumat (28/7).
Dalam situasi demikian pengembang harus lebih kreatif
mengembangkan produk, strategi harga dan pola pembayarannya harus lebih
menarik. Dulu saat bisnis properti normal investor mengalokasikan dana
cukup besar untuk satu jenis produk. Sekarang alokasinya sama tapi
properti yang dibeli terdiri beberapa jenis.
Ishak mencontohkan, dulu orang mengalokasikan dananya
hingga Rp10 miliar untu satu unit atau beberapa produk yang sama. Sekarang uang
sebesar itu dipakai membeli 2-3 produk berbeda. Bagi konsumen ini positif
karena lebih gampang menjual kembali asetnya dan kenaikan harganya lebih besar.
“Tren ini berlangsung dua tahun terakhir, selain itu konsumen juga lebih cerdas
dalam memilih produk yang akan dibeli. Mereka tidak mudah termakan promosi dan
rayuan developer,” imbuhnya.
0 komentar:
Posting Komentar